APPBI Minta Pengelola Mal Berinovasi dan Adaptif Selama Pandemi

Ketua Umum Asosiasi Persatuan Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonsus Widjaja mengungkapkan, mal dan ekosistem lainnya yang terlibat di dalamnya perlu harus menyesuaikan paradigma di era baru saat ini.

Menurut dia, saat ini masyarakat seakan tidak lagi memerlukan perlu tempat belanja karena segala kebutuhan sudah bisa diperoleh secara online.

Meski begitu kata dia, kehadiran mal tidak bisa dikesampingkan karena sesekali masyarakat juga butuh tempat untuk melakukan interaksi, sebagai makhluk sosial.

“Kita tahu, dengan pandemi ini kita harus beradaptasi dengan new normal. Untuk bisa ke arah new normal kita juga harus punya paradigma baru, khususnya pengelola pusat perbelanjaan terhadap visitor-nya, customer-nya, dan tenant.

Tenant perlu membangun konsep baru, bukan hanya buka toko selesai. Itu bisa dilakukan di mana saja, tapi lebih kepada konsep berbelanja baru, agar barangnya laku,” kata Alphonsus secara virtual, Kamis (2/9/2021).

Alphonsus mengungkapkan, karena saat ini banyak masyarakat tidak lagi perlu tempat berbelanja, maka tugas pengelola pusat perbelanjaan adalah mencari titik temu. Dengan kata lain, pusat perbelanjaan bukan hanya menyewakan tempat saja, tapi harus mencari konsep baru sehingga masyarakat mau berkunjung.

“Jadi pusat perbelanjaan harus bisa memberikan 1 konsep, bukan lagi sekadar menjual place of business, atau menyewakan tempat saja. Karena tenant ini perlu sekali konsep baru, paradigma ini harus diubah, pengelola harus bisa mencari konsep baru, misalkan tempat berinteraksi secara langsung dengan sesamanya,” kata dia.

Menurut Alphonsus, saat ini tempat berbelanja menjadi faktor kedua yang mendukung kinerja pusat perbelanjaan.
Jika pusat perbelanjaan mengedepankan tempat belanja sebagai fungsi utama, maka konsep ini akan tergerus waktu dan tidak sesuai dengan keadaan saat ini. "Jadi pusat perbelanjaan harus cerdik dan inovatif memberikan pengalaman bagi customer-nya melampisakan kebutuhan sebagai makhluk sosial,” kata dia.

Sementara itu, Business Development Director of Pakuwon Group Ivy Wong mengatakan, bukan hanya pengelola mal saja yang harus mengubah paradigmanya. Penyewa tenant juga harus adaptif dan inovatif menyesuaikan konsep-konsep yang dinamis sesuai dengan kebutuhan saat ini.

Ivy juga menjelaskan, sebagai dampak dari menjamurnya online shop, konsep pop up store di mal juga layak dicermati. Hal ini lantaran pemilik online shop juga memiliki customer-nya sehingga bentuk adaptasi dan inovasi seperti ini bisa dibaurkan.

“Menurut saya dalam kondisi sekarang, online shop dengan konsep pop up store di mal supaya dapat spectrum customer yang berbeda, mereka juga harus buka (toko). Kelihatannya dalam 5 tahun akan seperti itu, dan kita sebagai salah satu pengelola mal, minta ke seluruh tenant untuk menggabungkan dan mendorong program yang akan kita jalankan nanti, supaya ada kesamaan,” kata dia.






money.kompas.com

Penulis : Kiki Safitri
Editor : Yoga Sukmana