Aturan Baru Royalti Lagu, Ini Harapan Pengelola Pusat Belanja

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik. Salah satu ketentuan dalam PP tersebut yakni kewajiban pembayaran royalti bagi setiap orang yang menggunakan secara komersial lagu dan atau musik dalam bentuk layanan publik yang bersifat komersial.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengungkapkan, ketentuan membayar royalti musik atau lagu sebetulnya bukan hal yang baru bagi pusat perbelanjaan. Selama ini pusat perbelanjaan sudah rutin membayar royalti sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

“Selama ini kita sudah bayar, bahkan APPBI pernah mendapatkan perhargaan dari Kementerian Hukum dan HAM tahun 2019 lalu sebagai pembayar royalti teraktif,” kata Alphonzus Widjaja saat dihubungi Beritasatu.com, Jumat (9/4/2021).

Namun diakui Alphonzus, ada perbedaan antara aturan sebelumnya dengan PP 56/2021, di mana nantinya akan dibentuk pusat data lagu dan musik sebagai rujukan untuk membayar royalti.

“Kalau dilihat sekilas dari peraturan pemerintahnya, yang membedakan adanya pusat data atau bank lagu dan musik. Tetapi kalau dari sisi besaran atau nilai royaltinya, harus ditunggu dulu peraturan menterinya. Kalau dulu, pembayaran secara tahunan berdasarkan luas dari pusat perbelanjaan. Karena dulu belum ada pusat data lagu dan musik, perhitungannya secara umum saja, semua lagu dan dihitung berdasarkan luas pusat perbelanjaan,” kata Alphonzus.

Dengan adanya pembentukan pusat data atau bank lagu dan musik, Alphonzus berharap perhitungan royalti akan jadi lebih mudah, dan juga pengaturan pemanfaatan royalti menjadi lebih jelas.

“Dengan adanya pusat data lagu dan musik, ini kan semakin jelas siapa yang berhak untuk mendapatkan bagian dari royalti secara lebih tepat. Kalau sebelumnya kan tidak ada, sehingga pembagiannya mungkin belum bisa merata atau lebih adil,” ujar Alphonzus.




Sumber :
Reporter: Herman
Sumber : Berita Satu